Newest Post
// Posted by :Unknown
// On :23 Sep 2015
" CITA-CITA SETINGGI LANGIT "
![]() |
| cerita-sembarang.blogspot.com |
Sinar
bias mentari menembus ke gorden putih tempat tidurku, membuat ku bangun
kesilauan. Kubuka jendela, dan ku hirup udara pagi hari ini. Ah, indahnya pagi
ini, di tambah suara kicauan burung yang mengawali pagi hari ini. Hari ini
adalah hari minggu. Seperti biasa, tidak lupa aku sempatkan diri untuk berjogging di taman di salah satu kota
kecil ku ini.
“Pagi
bu” begitulah sapaku saat sesekali bertemu dengan ibu-ibu di dekat rumahku.
Nama
ku adalah Intan Permata Indah. Biasa dipanggil Intan. Yang saya tahu, nama
adalah sebuah do’a dari orangtua yang
diberikan kepada kita. Mungkin, saya harus bisa menjadi seperti intan yang
selalu indah di mata orang lain. Aku masih duduk di bangku SMA. Kata orang, masa-masa
SMA adalah massa remaja yang paling mengasyikkan. Menurutku, massa itu justru
malah massa yang harus di manfaatkan sebaik-baiknya untuk menuju ke masa depan
yang cerah. Banyak manusia yang massa tuanya sulit, dikarenakan manusia itu tidak
memanfaatkan massa remajanya dengan baik. Alhasil, ia kehilangan massa depannya.
Aku
lebih suka menjadi diri ku sendiri, daripada harus berpura-pura menjadi orang
lain. Inilah diri ku, menjalani hidup dengan sederhana, apaadanya, dan selalu
bersyukur dalam keadaan apapun.
Pagi
ini, aku membantu ibu mengantarkan dagangannya ke tempat warung-warung
tetangga. Ibu selalu membuat makanan kecil-kecilan, walau hasilnya tidak seberapa
yang penting cukup untuk makan dan biaya sekolah, walau terkadang harus memohon
peringanan biaya kepada pihak sekolah. Tetapi, kita selalu mensyukurinya.
****
Serasa
ada bayangan yang muncul dalam lamunan ku ini. Semalam, aku insomnia. Menjelang
sepertiga malam, perasaan aneh itu baru berhasil di kompromi untuk lelap.
Aku duduk sebentar di
teras rumah kecil ku. Seakan berita tadi pagi membuat pikiranku jadi terganggu.
Mungkin, itu adalah jalan satu-satunya untuk memperbaiki ekonomi keluargaku. Ayahku
hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Penghasilannya pun tidak cukup untuk biaya
sekolah, hanya bisa untuk makan. Berita itu pun selalu datang di benakku, jika
ayah ingin merantau. Seperti kesunyian yang hendak membungkus riuh. Seperti, cahaya
pagi yang berangsur mengusir gelap. Entah, apa yang aku rasakan saat ini, tiba-tiba
ayah memberi tahu itu kepadaku.
Siang menghampar panas
di hadapanku. Melirik arloji di tangan. Masih sebentar lagi kereta akan datang.
Ibu hanya bisa pasrah dengan keadaan. Beginilah perjuangan seorang ayah demi
keluarganya. Ia merelakan segala keadaan demi membahagiakan mereka. Itu juga
pasti bukan keinginannya, tapi apalah daya jika kita tak berbuat apa-apa. Apakah
kita juga akan menjadi milyarder dadakan? Tidak mungkin. Ayah, suatu saat nanti aku
pasti bisa menjadi orang yang sukses.
Kereta melaju cepat
meninggalkan stasiun. Ayahku langsung pergi meninggalkan kita, tanpa berpesan
apapun. Mungkin, ia tidak mau melihat kita larut dalam kesedihan karena
kepergiannya. Sungguh berat bagi kita harus berpisah dengan ayah. Aku tercenung
oleh kenyataan yang ada di hadapanku. Semua ini benar-benar terlewat dari
pikiranku.
1TAHUN
KEMUDIAN…
Krrrrriiiiiinngggggggggg…
Suara bel masuk telah berbunyi. Aku
berlarian menuju ke kelas dengan tergesa-gesa. Huh, untung saja gurunya belum
datang. Hari ini aku mulai menjalani aktivitas baru. Sekarang aku naik ke kelas
XII. Rasanya waktu ini berjalan dengan cepat sekali. Dan, hari ini aku menginjak
umur 17 tahun. Di umur 17 tahun ini, ayah tidak ada di sampingku. Aku telah
menginjak semakin dewasa. Artinya, aku harus merubah duniaku yang dulu, menjadi
dunia baru. Harus bisa semakin dewasa dalam menghadapi apapun. Apapun itu.
Cita-cita adalah sebuah keinginan
seseorang yang harus di perjuangkan untuk mendapatkannya. Semua berhak untuk mendapatkannya.
Tak mengenal kasta, derajat, kekayaan, atau apapun. Mengingat keadaan orangtua
saat ini, apa mungkin kalau aku mempunyai keinginan yang besar, dan tinggi bisa
tercapai?
Pikiranku semakin dibuat kacau. Hingga
aku berfikiran seperti itu. Di dunia ini tidak ada yang mustahil terjadi jika
kita mau berusaha untuk mendapatkannya. Aku bercita-cita ingin pergi ke Eropa. Kelihatannya
itu hal yang mustahil, hal yang konyol untuk di dengar. Ah entahlah, apapun
cercaan mereka, itu justru yang membuatku bangkit. Dan aku tidak perlu pujian
orang-orang di luar sana, jika hal itu terjadi kelak.
****
Suasana sore hari, sejuknya
semilir angin yang menggoyangkan rumput ilalang di hadapanku, membuatku
teringat sosok ayah. Ayah bagaimana kabar mu saat ini? Anakmu sedang merintih
kerinduan menginginkan kedatanganmu. Aku berharap engkau cepat pulang. Aku
rindu sosok ayah, ayah yang selalu menyemangatiku ketika masalah datang. Ayah, aku
ingat kata-katamu dulu, kira-kira 7 tahun yang lalu. Saat itu….
Aku sedang belajar di
meja kecilku, lalu ayah mendekatiku.
“Nanti kalu sudah
besar, mau jadi apa nak?” (kata ayahku kepadaku)
“Aku nanti kalau besar
ingin jadi wirausahawan sukses. Biar jadi Bos yang punya karyawan banyak. Kan
enak” (jawabku sambil membayangkan jika itu terjadi)
‘’Oh ya? Bagus dong. Jangan
seperti ayah ya. Berarti anak ayah harus pandai, nurut sama ayah sama ibu, jangan
lupa sholat juga, minta sama alloh biar nanti bisa terjadi”.
“Iya, pastinya dong
ayah.” (jawabku dengan girang)
‘’Nak, ayah bangga sama
kamu. Kamu harus buktikan, kalau kamu BISA!”
Air mata tak terduga telah turun hingga ke
pelipis pipi. Mata mulai basah dan terlihat sayu. Ayah, aku akan buktikan suatu
saat kalau aku pasti bisa !
******
Matahari mulai turun ke peraduannya. Aku
harus pulang, nanti ibu pasti mencariku.
Ibu ternyata telah menungguku di depan
rumah. Tak ku sangka, begitu pedulinya seorang ibu terhadap anaknya.
‘’Darimana saja kamu
Intan?”
‘’Maaf bu. Tadi baru keluar sebentar.’’
Aduh.. ibu pasti marah sama aku. Ini juga kesalahanku.
‘’Yaudah, cepetan
mandi. Habis itu siapkan makan malamnya ya.”
Uughh.. ternyata ibu tidak marah. Syukurlah.
Suara mesin jahit ibu yang gemuruh, membuatku
tidak konsentrasi belajar. Di tambah suara tangisan adik merengek meminta susu
kepada ibu, kebetulan ibu tidak punya uang untuk membelinya, sudah 2 hari adik
tidak minum susu. Uang kiriman ayah sudah habis untuk membayar hutang kepada
tetangga. Aku mencoba mengalihkan perhatian adik. Aku mengajaknya keluar, melihat
pemandangan malam. Beberapa menit kemudian, ia langsung diam dan tertidur. Untunglah,
lalu aku melanjutkan belajarku.
***
Kriiiinngg…07.05 Pagi.
Hari
ini aku terlambat ke sekolah, tidak
seperti biasanya, karena kemarin malam aku
terlalu larut dalam belajar. Aku berlari cepat menyusuri sepanjang kelas. Banyak
anak yang juga terlambat lari berhamburan. Ternyata di kelas ku sudah
kedatangan guru. Hari ini pelajaran di jam pertama adalah matematika. Yeahh,
itu pelajaran yang aku sukai, tak
heran jika banyak yang bertanya kepadaku jika ada soal yang sulit. Tahun ini aku mendapat peringkat dua, padahal semester kemarin aku mendapat
peringkat satu. Sebenarnya ibu dan
ayah juga tidak mempermasalahkan itu sih.
“ Intan, boleh aku bertanya tentang sesuatu? ” salah seorang teman dekatku tiba tiba datang
di depanku, namanya Nissa .
“
Ada apa nis? ” jawabku dengan wajah penasaran.
“ Kamu malam ini ada acara nggak? ”
“ Tidak ada, kenapa
memangnya Nis? ”
“ Aku ingin kerumahmu
nanti malam, ajarin dong matematika. Soalnya susah banget, dari dulu aku tidak
pernah paham.” Wajah nya sambil manyun.
“ Haha, aku kirain kamu
mau ngajakin aku main,”
“ Yeee, nggak ada waktu
nih buat main main! Bentar lagi kan sudah mau UN,”
“ Tumben banget kamu
bilang kayak gitu, biasanya merengek minta nemenin pergi ke luar,”
“ Haha, iya juga sih.
Tapi kali ini aku mau serius dulu, habis itu kita main keluar lagi. Setuju kan?” Jawab nya dengan wajah sumringah.
Memang,
teman ku yang satu ini orang nya asik banget, sahabat yang paling mengerti
tentang keadaan ku, dia juga yang selalu memberi ku solusi jika ada masalah.
Aku beruntung banget deh punya sahabat kayak dia.
*******
Tepat 100 hari setelah
kematian ayah.
Waktu itu perjalanan kembali pulang ia
mengalami kecelakaan, yang kemudian takdir berkata lain, ayah dipanggil sang
Pemilik. Aku ingat betul, kata-kata almarhum, bahwa dia menginginkan ku untuk
menjadi orang yang bermanfaat, yang tak mudah pantang menyerah. Tepat di hari
ulang tahun ku yang sudah 25 ini, dan juga mengenang kematian ayah yang ke100
hari, sebenarnya aku ingin menunjukkan kepada mu bahwa aku sudah mewujudkan
cita-citaku, aku sudah bisa pergi ke Eropa, melanjutkan studi S2 ku. Ha, lucu
memang semua ini tak ada yang mustahil, jika kita bisa berusaha. Andai kau
masih disini. Aku tak akan melupakan perjuanganku hingga sampai sekarang. Waktu
mendekati 1 hari sebelum ujian, aku terpaksa tidak belajar, pikiranku
terguncang, memikirkan hutang-hutang ibu yang semakin banyak, semakin banyak
orang mengejar. Tapi, semua sudah berakhir, aku sudah bisa melunasi hutang itu
sendiri, bahkan aku sudah memberikan uang kepada ibu, melalui bisnis yang aku
rancang waktu SMA.
Jangan menyerah untuk
mengejar cita-cita mu, setinggi apapun, tetapi ingatlah semua itu tak akan
terjadi tanpa kau bergerak. Semua butuh proses, Tuhan tak menilai hasilmu,
tetapi menilai perjuanganmu.

bagus cerpennya...terus berkarya gan..
BalasHapuskarya sendiri gan, bagus ceritanya :)
BalasHapusiya, proses mau buat novel, doakan yah :)
Hapus